Salah satu scene di film Harry Potter and the Chamber of Secrets menginspirasinya. Adegan saat sang jiwa Pangeran Kegelapan—yang tersimpan dalam suatu buku harian—menunjukkan sebuah anagram (permainan huruf yang ditukar-tukar dalam satu kata atau lebih) dari nama aslinya; Tom Marvolo Riddle—menjadi I am Lord Voldemort kepada Harry Potter di dalam kamar rahasia. Sangat hebat, perlu adanya kepercayaan diri dan hati agar mampu membuat nama yang bagus—dan indah seperti itu.
Arief mencoba melakukan itu, dilatar belakangi atas keinginan agar nama buatannya nanti bisa semenarik nama Voldemort. Apalagi, Arief yang notabene penggemar warna hijau kini perlahan-lahan menyukai salah satu asrama di Hogwarts—yaitu Slytherin yang menurut yang ia ketahui, merupakan asrama tempat dimana Voldemort dahulu tinggal selama 7 tahun di Hogwarts. Jadilah, anak laki-laki ini terobsesi atas itu semua dan dengan gilanya—menyebut dirinya sendiri sebagai sang Dark Prince, saingan Dark Lord. Haha. Menyenangkan memang—tak ada yang bisa melarang fantasi seseorang, ‘kan?
Di atas ranjang berlapis sprei berwarna hijau terang, anak laki-laki yang entah sudah kelas berapa saat itu (penulis lupa) tengah mencoret-coret di atas sebuah buku bekas. Pertama-tama ia menulis nama lengkapnya; Arief Budi Sucianto. Kemudian mulai mencoba memutar-mutar letak setiap huruf yang tersedia. Sungguh sulit, baginya. Ia bahkan tidak menemukan huruf L atau V yang ia anggap akan keren jika terapat dalam susunan kata dalam namanya. Sambil mencoba-coba terus (perlu waktu amat lama untuk membuatnya) anak laki-laki ini mengingat satu hal, satu nama yang sejak dari kecil ia suka. Nama itu adalah Fabi. Pernah saat ia kecil, ia menonton sebuah sinetron bersama keluarganya di malam hari yang diperankan oleh—kalau tidak salah—Christian Sugiono dan Alyssia Soebandono. Di sinetron itu, si Christian Sugiono memiliki nama panggilan Abbie—dan entah kenapa ia begitu suka mendengar nama itu diucapkan. Seperti nama panggilan untuk seorang ayah bagi kebanyak anak-anak di negeri Arab, ‘kan?
Ia sudah mendapat satu nama dari situ—Fabi. Ia mencoba mengolah kata-kata yang tersisa kemudian. Segalanya hanya sebuah kebetulan, pikirnya—sampai satu saat, di dalam benaknya, tiba-tiba terlintas judul sebuah game yang ada di handphone milik salah satu temannya; Call of Duty. Ia bahkan tidak mengerti game jenis apa itu—maklum, anak laki-laki ini sama sekali tidak menyukai game. Kalau tak percaya, tengok saja handphone miliknya dan buka di bagian ‘permainan’ dan kalian akan menemukan dua buah game yang memang asli/bawaan sejak ia beli handphone tersebut.
Duty. Ia tertarik dengan kata itu, walau ia tak mengerti apa arti kata ‘Duty’ tapi ia malah menggunakannya sebagai salah satu hasil anagram terhadap namanya—tentunya dengan penggantian huruf ‘Y’ pada Duty menjadi ‘IE’ sesuai huruf-huruf yang tersedia sehingga manjadi ‘Dutie’. Kini dirinya sudah mendapatkan dua nama—dan menurutnya itu sudah merupakan sebuah pencapaian yang baik. Baginya, Fabi dan Dutie juga sebuah nama yang keren—meski tidak sekeren Lord Voldemort.
Tersisa huruf R,I,S,U,C,A,N,O dari namanya. Dan otaknya sudah tak sanggup membuat nama bagus lagi, pikirnya. Hanya menunggu sebuah keajaiban lagi yang datang—dan memberi inspirasi kepadanya, eh? Lucu. Maka dari itu, ia kembali mencoba mengolah huruf-huruf itu menjadi sebuah kata yang pada akhirnya memutuskan untuk mengambil huruf O dan S sebagai pelengkap nama Fabi—sehingga menjadi Fabios. Sebelumnya, ia malah berniat mengambil huruf U dan S—sehingga jadi Fabius, tapi ia pikir-pikir lagi nama Fabius jelek—jelek sekali malah.
Beberapa huruf lagi dan anagram namanya terwujud. Lebih dari satu hari—kalau tidak salah—ia melakukan itu semua, dan pada akhirnya nama Ranicu (baca: Re-ni-kyu) ia dapat. Selama beberapa hari di sekolahnya, ia mulai memperkenalkan nama itu kepada teman-temannya. Fabios Ranicu Dutie. Mulai dari Friendster-nya yang ia beri nama Fabios Ranicu Dutie sampai beberapa alamat e-mailnya yang menggunakan nama barunya tersebut.
Setidaknya cukup lama ia menggunakan nama itu sampai suatu saat ia merasa ada yang janggal dengan namanya tersebut. Ranicu—terlalu jelek kalau dibaca tiap suku kata—apalagi kalau tidak menggunakan pelafalan Inggris yang benar. Bisa ditertawakan dia—haha. Maka dari itulah, ia mengubah nama Ranicu menjadi Curain (baca: Kyu-rein) yang ia nilai lebih bagus dari Ranicu dari segi membacanya. So, apakah ini kebetulan atau memang—takdir?
Arief mencoba melakukan itu, dilatar belakangi atas keinginan agar nama buatannya nanti bisa semenarik nama Voldemort. Apalagi, Arief yang notabene penggemar warna hijau kini perlahan-lahan menyukai salah satu asrama di Hogwarts—yaitu Slytherin yang menurut yang ia ketahui, merupakan asrama tempat dimana Voldemort dahulu tinggal selama 7 tahun di Hogwarts. Jadilah, anak laki-laki ini terobsesi atas itu semua dan dengan gilanya—menyebut dirinya sendiri sebagai sang Dark Prince, saingan Dark Lord. Haha. Menyenangkan memang—tak ada yang bisa melarang fantasi seseorang, ‘kan?
Di atas ranjang berlapis sprei berwarna hijau terang, anak laki-laki yang entah sudah kelas berapa saat itu (penulis lupa) tengah mencoret-coret di atas sebuah buku bekas. Pertama-tama ia menulis nama lengkapnya; Arief Budi Sucianto. Kemudian mulai mencoba memutar-mutar letak setiap huruf yang tersedia. Sungguh sulit, baginya. Ia bahkan tidak menemukan huruf L atau V yang ia anggap akan keren jika terapat dalam susunan kata dalam namanya. Sambil mencoba-coba terus (perlu waktu amat lama untuk membuatnya) anak laki-laki ini mengingat satu hal, satu nama yang sejak dari kecil ia suka. Nama itu adalah Fabi. Pernah saat ia kecil, ia menonton sebuah sinetron bersama keluarganya di malam hari yang diperankan oleh—kalau tidak salah—Christian Sugiono dan Alyssia Soebandono. Di sinetron itu, si Christian Sugiono memiliki nama panggilan Abbie—dan entah kenapa ia begitu suka mendengar nama itu diucapkan. Seperti nama panggilan untuk seorang ayah bagi kebanyak anak-anak di negeri Arab, ‘kan?
Ia sudah mendapat satu nama dari situ—Fabi. Ia mencoba mengolah kata-kata yang tersisa kemudian. Segalanya hanya sebuah kebetulan, pikirnya—sampai satu saat, di dalam benaknya, tiba-tiba terlintas judul sebuah game yang ada di handphone milik salah satu temannya; Call of Duty. Ia bahkan tidak mengerti game jenis apa itu—maklum, anak laki-laki ini sama sekali tidak menyukai game. Kalau tak percaya, tengok saja handphone miliknya dan buka di bagian ‘permainan’ dan kalian akan menemukan dua buah game yang memang asli/bawaan sejak ia beli handphone tersebut.
Duty. Ia tertarik dengan kata itu, walau ia tak mengerti apa arti kata ‘Duty’ tapi ia malah menggunakannya sebagai salah satu hasil anagram terhadap namanya—tentunya dengan penggantian huruf ‘Y’ pada Duty menjadi ‘IE’ sesuai huruf-huruf yang tersedia sehingga manjadi ‘Dutie’. Kini dirinya sudah mendapatkan dua nama—dan menurutnya itu sudah merupakan sebuah pencapaian yang baik. Baginya, Fabi dan Dutie juga sebuah nama yang keren—meski tidak sekeren Lord Voldemort.
Tersisa huruf R,I,S,U,C,A,N,O dari namanya. Dan otaknya sudah tak sanggup membuat nama bagus lagi, pikirnya. Hanya menunggu sebuah keajaiban lagi yang datang—dan memberi inspirasi kepadanya, eh? Lucu. Maka dari itu, ia kembali mencoba mengolah huruf-huruf itu menjadi sebuah kata yang pada akhirnya memutuskan untuk mengambil huruf O dan S sebagai pelengkap nama Fabi—sehingga menjadi Fabios. Sebelumnya, ia malah berniat mengambil huruf U dan S—sehingga jadi Fabius, tapi ia pikir-pikir lagi nama Fabius jelek—jelek sekali malah.
Beberapa huruf lagi dan anagram namanya terwujud. Lebih dari satu hari—kalau tidak salah—ia melakukan itu semua, dan pada akhirnya nama Ranicu (baca: Re-ni-kyu) ia dapat. Selama beberapa hari di sekolahnya, ia mulai memperkenalkan nama itu kepada teman-temannya. Fabios Ranicu Dutie. Mulai dari Friendster-nya yang ia beri nama Fabios Ranicu Dutie sampai beberapa alamat e-mailnya yang menggunakan nama barunya tersebut.
Setidaknya cukup lama ia menggunakan nama itu sampai suatu saat ia merasa ada yang janggal dengan namanya tersebut. Ranicu—terlalu jelek kalau dibaca tiap suku kata—apalagi kalau tidak menggunakan pelafalan Inggris yang benar. Bisa ditertawakan dia—haha. Maka dari itulah, ia mengubah nama Ranicu menjadi Curain (baca: Kyu-rein) yang ia nilai lebih bagus dari Ranicu dari segi membacanya. So, apakah ini kebetulan atau memang—takdir?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar