Welcome!

Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing. (Thomas A. Edison)

Minggu, 14 Februari 2010

Pertama Kali Bergabung Di Sebuah Forum

Semakin gemar dengan nama barunya dan tentu saja—Harry Potter all of series, anak laki-laki itu berusaha menggabungkan keduanya. Alhasil, karakter Fabios Curain Dutie dibuatnya sebagai The Dark Prince—yang ceritanya, kurang lebih sama dengan Voldemort yaitu berasal dari asrama Slytherin dan begitu memiliki ambisi yang besar dan kelicikan tersendiri.

Anak laki-laki itu bernarsis ria, memfoto dirinya sendiri melalui kamera hapenya dengan gaya-gaya aneh dan sok misterius. Menutup sebagian mukanya dengan slayer hitam dan kemudian memfotonya—serta meng-upload-nya ke Friendster dan menjadikan foto itu sebagai Primary Photo. Tak ayal, banyak sekali comment dari teman-temannya akan fotonya tersebut—kebanyakan malah mengejek fotonya menjijikkan. Ahahahay, peduli amat, pikirnya.

Suatu saat, entah sejak kapan (si penulis lagi-lagi lupa xD), Arief main comment-comment-an dengan salah satu anak laki-laki yang—kalau tidak salah—tinggal di Jakarta melalui account Friendsternya tersebut. Ia tak mengerti alur pembicaraannya sampai pada akhirnya ia mengetahui kalau anak laki-laki yang dikenalnya tersebut merupakan salah satu penggemar Harry Potter juga—dan dari situ, dia memperkenalkan kepada Arief sebuah forum Harry Potter yang katanya seru; http://www.harrypotterindonesia.com. Dia bisa masuk sebuah asrama dan anak asrama lain tidak akan bisa masuk ke dalam asrama kita. Arief bertanya di asrama mana si anak laki-laki itu (namanya benar-benar lupa) ditempatkan dan dia menjawab berada di Gryffindor.

Berterima kasih kepada anak itu dan pada tanggal 16 September 2006 pukul 09:26:07 PM di salah satu warnet dekat rumahnya, Arief mendaftarkan diri di forum tersebut dengan username ‘fabios’ dan kemudian membaca-baca ketentuan atau peraturan-peraturan yang ada. Semuanya membuat dirinya semakin penasaran dan begitu senang, mulai dari ketentuan jumlah minimal post 10 posts agar bisa masuk asrama yang diinginkan, jumlah karma yang membuat semakin bersemangat dalam membuat post, sampai topik-topik yang SANGAT menambah pengetahuannya akan seluk beluk dunia Harry Potter. Sampai pada suatu saat, sang moderator forum, yang biasa dipanggil ‘mbah Hulk’ oleh kebanyakan member akhirnya memasukkan Fabi ke dalam asrama Slytherin dan board Slytherin tampak jika ia membuka halaman depan site tersebut.

Di dalam sana, ia mulai berkenalan dengan member-member Slytherin yang—entah kenapa—begitu sedikit yang aktif kalau ia lihat-lihat. Hanya ada Mami Dahlia, Bang Verdo, Laffy, Dark Dawg, dan Prinska. Apakah memang forum ini sudah lama sekali sehingga banyak ditinggalkan para membernya? batinnya. Tapi ia tetap have fun. Ia menjalani semua petualangannya di dunia maya sejak itu.

Hanya kebetulan atau memang sudah—takdir?

Salah satu scene di film Harry Potter and the Chamber of Secrets menginspirasinya. Adegan saat sang jiwa Pangeran Kegelapan—yang tersimpan dalam suatu buku harian—menunjukkan sebuah anagram (permainan huruf yang ditukar-tukar dalam satu kata atau lebih) dari nama aslinya; Tom Marvolo Riddle—menjadi I am Lord Voldemort kepada Harry Potter di dalam kamar rahasia. Sangat hebat, perlu adanya kepercayaan diri dan hati agar mampu membuat nama yang bagus—dan indah seperti itu.

Arief mencoba melakukan itu, dilatar belakangi atas keinginan agar nama buatannya nanti bisa semenarik nama Voldemort. Apalagi, Arief yang notabene penggemar warna hijau kini perlahan-lahan menyukai salah satu asrama di Hogwarts—yaitu Slytherin yang menurut yang ia ketahui, merupakan asrama tempat dimana Voldemort dahulu tinggal selama 7 tahun di Hogwarts. Jadilah, anak laki-laki ini terobsesi atas itu semua dan dengan gilanya—menyebut dirinya sendiri sebagai sang Dark Prince, saingan Dark Lord. Haha. Menyenangkan memang—tak ada yang bisa melarang fantasi seseorang, ‘kan?

Di atas ranjang berlapis sprei berwarna hijau terang, anak laki-laki yang entah sudah kelas berapa saat itu (penulis lupa) tengah mencoret-coret di atas sebuah buku bekas. Pertama-tama ia menulis nama lengkapnya; Arief Budi Sucianto. Kemudian mulai mencoba memutar-mutar letak setiap huruf yang tersedia. Sungguh sulit, baginya. Ia bahkan tidak menemukan huruf L atau V yang ia anggap akan keren jika terapat dalam susunan kata dalam namanya. Sambil mencoba-coba terus (perlu waktu amat lama untuk membuatnya) anak laki-laki ini mengingat satu hal, satu nama yang sejak dari kecil ia suka. Nama itu adalah Fabi. Pernah saat ia kecil, ia menonton sebuah sinetron bersama keluarganya di malam hari yang diperankan oleh—kalau tidak salah—Christian Sugiono dan Alyssia Soebandono. Di sinetron itu, si Christian Sugiono memiliki nama panggilan Abbie—dan entah kenapa ia begitu suka mendengar nama itu diucapkan. Seperti nama panggilan untuk seorang ayah bagi kebanyak anak-anak di negeri Arab, ‘kan?

Ia sudah mendapat satu nama dari situ—Fabi. Ia mencoba mengolah kata-kata yang tersisa kemudian. Segalanya hanya sebuah kebetulan, pikirnya—sampai satu saat, di dalam benaknya, tiba-tiba terlintas judul sebuah game yang ada di handphone milik salah satu temannya; Call of Duty. Ia bahkan tidak mengerti game jenis apa itu—maklum, anak laki-laki ini sama sekali tidak menyukai game. Kalau tak percaya, tengok saja handphone miliknya dan buka di bagian ‘permainan’ dan kalian akan menemukan dua buah game yang memang asli/bawaan sejak ia beli handphone tersebut.

Duty. Ia tertarik dengan kata itu, walau ia tak mengerti apa arti kata ‘Duty’ tapi ia malah menggunakannya sebagai salah satu hasil anagram terhadap namanya—tentunya dengan penggantian huruf ‘Y’ pada Duty menjadi ‘IE’ sesuai huruf-huruf yang tersedia sehingga manjadi ‘Dutie’. Kini dirinya sudah mendapatkan dua nama—dan menurutnya itu sudah merupakan sebuah pencapaian yang baik. Baginya, Fabi dan Dutie juga sebuah nama yang keren—meski tidak sekeren Lord Voldemort.

Tersisa huruf R,I,S,U,C,A,N,O dari namanya. Dan otaknya sudah tak sanggup membuat nama bagus lagi, pikirnya. Hanya menunggu sebuah keajaiban lagi yang datang—dan memberi inspirasi kepadanya, eh? Lucu. Maka dari itu, ia kembali mencoba mengolah huruf-huruf itu menjadi sebuah kata yang pada akhirnya memutuskan untuk mengambil huruf O dan S sebagai pelengkap nama Fabi—sehingga menjadi Fabios. Sebelumnya, ia malah berniat mengambil huruf U dan S—sehingga jadi Fabius, tapi ia pikir-pikir lagi nama Fabius jelek—jelek sekali malah.

Beberapa huruf lagi dan anagram namanya terwujud. Lebih dari satu hari—kalau tidak salah—ia melakukan itu semua, dan pada akhirnya nama Ranicu (baca: Re-ni-kyu) ia dapat. Selama beberapa hari di sekolahnya, ia mulai memperkenalkan nama itu kepada teman-temannya. Fabios Ranicu Dutie. Mulai dari Friendster-nya yang ia beri nama Fabios Ranicu Dutie sampai beberapa alamat e-mailnya yang menggunakan nama barunya tersebut.

Setidaknya cukup lama ia menggunakan nama itu sampai suatu saat ia merasa ada yang janggal dengan namanya tersebut. Ranicu—terlalu jelek kalau dibaca tiap suku kata—apalagi kalau tidak menggunakan pelafalan Inggris yang benar. Bisa ditertawakan dia—haha. Maka dari itulah, ia mengubah nama Ranicu menjadi Curain (baca: Kyu-rein) yang ia nilai lebih bagus dari Ranicu dari segi membacanya. So, apakah ini kebetulan atau memang—takdir?

Awal mula si penggemar berat Harry Potter?

Semuanya berawal dari kefanatikkan salah seorang anak laki-laki yang tinggal di kota Sidoarjo akan sebuah warna yang kata banyak orang mampu menenangkan hati apabila melihatnya. Sebut saja warna hijau—dan dari situ, kisah ini bermula.

Namanya Arief Budi Sucianto, bocah yang masih duduk di bangku SMP (saat itu) kelas 7D yang bahkan dikenal sebagai anak yang kuper—setidaknya, dia menilai dirinya sendiri seperti itu. Namun ia bangga, masih banyak teman-temannya yang menghargainya, entah dari sisi kebaikan, keloyalitasan, tidak membeda-bedakan teman, sampai kecerdasan yang dimiliki anak ini. Itu semua memang terlepas dari banyaknya kekurangan yang dimiliki; contoh saja tidak sedikit dari anak-anak sesekolahnya yang sering mengejeknya, mengatainya si kulit hitam, dan lain sebagainya. Ia tidak mau ambil pusing, tentunya. Yang jelas, ia memiliki sesuatu yang teman-temannya tidak miliki. Itu membuatnya merasa lebih hebat dari yang lainnya.

Suatu hari, seorang anak perempuan dengan rambut keriting tak terawat—yang merupakan teman sekelasnya juga—melintas di hadapannya dengan kaset VCD Harry Potter and the Prisoner of Azkaban berada di genggaman tangan si gadis dan terayun-ayun sesuai gerakan ayunan tangannya. Entah kenapa, anak laki-laki ini jadi tertarik untuk meminjamnya, padahal—jujur, dia bahkan tidak pernah suka dengan film Harry Potter saat ia masih di sekolah dasar. Kalau kalian sempat tahu, pernah suatu hari kakaknya meminjam kaset VCD Harry Potter and the Chamber of Secrets dari salah seorang temannya—dan memutar film itu di rumah. Arief, yang sudah dijelaskan tidak suka sama sekali dengan Harry Potter cuma melihat sekilas kemudian melontarkan kalimat tidak suka dengan film yang diputar kakaknya tersebut. Sangat kontras dengan Arief yang sekarang, bukan?

Jadi, ia benar-benar meminjam kaset tersebut dari temannya—Ester Debora. Sesampainya di rumah, saat pulang dari sekolah, Arief—atau biasa juga dipanggil Budi—bingung ingin memutar dimana film itu. Ia bahkan baru menyadari kalau VCD Playernya sudah rusak dan tak dapat digunakan lagi. Jadilah, ia memutar film itu di komputernya saat pagi hari—namun, begitu sialnya—si ibu memarahinya karena memutar film di komputer yang notabene menghabiskan waktu hampir 2-3 jam lebih. ‘Mahal-mahalin bayar listrik’, katanya. Jadi, bocah kelas 1 SMP itu menurut saja—padahal belum hampir separuh Disc 1 yang ia tonton.

Berhari-hari kaset itu berada di rumahnya, Arief bahkan tidak peduli apa kata empunya si kaset yang tidak lekas dikembalikan. Bermodal nekat dan tak tahu malu, dia-pun pergi ke rumah tetangga dan memutar film itu di rumah tetangga—sebelumnya sudah meminta ijin kepada anak sang pemilik rumah yang memang teman main Arief. Dan dari situ, semuanya berubah. Arief kini semakin suka dengan film Harry Potter—yang dalam penilaiannya—sangat menarik. Bukan hanya film, malah. Ia juga mulai merambah novel-novel tebal karya JK. Rowling hasil pinjaman dari kakak kelasnya—Devi. Saat itu ia cuma dipinjami novel ke-5, ke-6, dan ke-7
Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Pengikut