Welcome!

Being busy does not always mean real work. The object of all work is production or accomplishment and to either of these ends there must be forethought, system, planning, intelligence, and honest purpose, as well as perspiration. Seeming to do is not doing. (Thomas A. Edison)

Minggu, 14 Februari 2010

Awal mula si penggemar berat Harry Potter?

Semuanya berawal dari kefanatikkan salah seorang anak laki-laki yang tinggal di kota Sidoarjo akan sebuah warna yang kata banyak orang mampu menenangkan hati apabila melihatnya. Sebut saja warna hijau—dan dari situ, kisah ini bermula.

Namanya Arief Budi Sucianto, bocah yang masih duduk di bangku SMP (saat itu) kelas 7D yang bahkan dikenal sebagai anak yang kuper—setidaknya, dia menilai dirinya sendiri seperti itu. Namun ia bangga, masih banyak teman-temannya yang menghargainya, entah dari sisi kebaikan, keloyalitasan, tidak membeda-bedakan teman, sampai kecerdasan yang dimiliki anak ini. Itu semua memang terlepas dari banyaknya kekurangan yang dimiliki; contoh saja tidak sedikit dari anak-anak sesekolahnya yang sering mengejeknya, mengatainya si kulit hitam, dan lain sebagainya. Ia tidak mau ambil pusing, tentunya. Yang jelas, ia memiliki sesuatu yang teman-temannya tidak miliki. Itu membuatnya merasa lebih hebat dari yang lainnya.

Suatu hari, seorang anak perempuan dengan rambut keriting tak terawat—yang merupakan teman sekelasnya juga—melintas di hadapannya dengan kaset VCD Harry Potter and the Prisoner of Azkaban berada di genggaman tangan si gadis dan terayun-ayun sesuai gerakan ayunan tangannya. Entah kenapa, anak laki-laki ini jadi tertarik untuk meminjamnya, padahal—jujur, dia bahkan tidak pernah suka dengan film Harry Potter saat ia masih di sekolah dasar. Kalau kalian sempat tahu, pernah suatu hari kakaknya meminjam kaset VCD Harry Potter and the Chamber of Secrets dari salah seorang temannya—dan memutar film itu di rumah. Arief, yang sudah dijelaskan tidak suka sama sekali dengan Harry Potter cuma melihat sekilas kemudian melontarkan kalimat tidak suka dengan film yang diputar kakaknya tersebut. Sangat kontras dengan Arief yang sekarang, bukan?

Jadi, ia benar-benar meminjam kaset tersebut dari temannya—Ester Debora. Sesampainya di rumah, saat pulang dari sekolah, Arief—atau biasa juga dipanggil Budi—bingung ingin memutar dimana film itu. Ia bahkan baru menyadari kalau VCD Playernya sudah rusak dan tak dapat digunakan lagi. Jadilah, ia memutar film itu di komputernya saat pagi hari—namun, begitu sialnya—si ibu memarahinya karena memutar film di komputer yang notabene menghabiskan waktu hampir 2-3 jam lebih. ‘Mahal-mahalin bayar listrik’, katanya. Jadi, bocah kelas 1 SMP itu menurut saja—padahal belum hampir separuh Disc 1 yang ia tonton.

Berhari-hari kaset itu berada di rumahnya, Arief bahkan tidak peduli apa kata empunya si kaset yang tidak lekas dikembalikan. Bermodal nekat dan tak tahu malu, dia-pun pergi ke rumah tetangga dan memutar film itu di rumah tetangga—sebelumnya sudah meminta ijin kepada anak sang pemilik rumah yang memang teman main Arief. Dan dari situ, semuanya berubah. Arief kini semakin suka dengan film Harry Potter—yang dalam penilaiannya—sangat menarik. Bukan hanya film, malah. Ia juga mulai merambah novel-novel tebal karya JK. Rowling hasil pinjaman dari kakak kelasnya—Devi. Saat itu ia cuma dipinjami novel ke-5, ke-6, dan ke-7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger

Cari Blog Ini

Pengikut